BAB 1
PENDAHULUAN
- Latar belakang
Salah
satu penyebab kebutaan adalah katarak. sekitar 1,5 % dari jumlah penduduk di
Indonesia, 78 % disebabkan oleh katarak. Pandangan mata yang kabur atau
berkabut bagaikan melihat melalui kaca mata berembun, ukuran lensa kacamata
yang sering berubah, penglihatan ganda ketika mengemudi di malam hari ,
merupakan gejala katarak. Tetapi di siang hari penderita justru merasa
silau karena cahaya yang masuk ke mata terasa berlebih.
Begitu
besarnya resiko masyarakat Indonesia untuk menderita katarak memicu kita
dalam upaya pencegahan. Dengan memperhatikan gaya hidup, lingkungan yang
sehat dan menghindari pemakaian bahan-bahan kimia yang dapat merusak akan
membuta kita terhindar dari berbagai jenis penyakit dalam stadium yang lebih
berat yang akan menyulitkan upaya penyembuhan.
- Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui
Asuhan Keperawatan pada pasien katarak.
2. Mahasiswa mampu memahami
konsep dasar Katarak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
- Definisi
Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga
menyebabkan penurunan/gangguan penglihatan (Admin,2009).
Katarak menyebabkan penglihatan menjadi berkabut/buram. Katarak
merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi
cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup
air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga
ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000).
Definisi lain katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa
rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa.
Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat
timbul pada berbagai usia tertentu (Iwan,2009).
- Anatomi Lensa Mata
Mata adalah
indra penglihatan dibentuk untuk menerima ransangan, berkas-berkas cahaya pada
retina dengan perantara serabut-serabut nervous options mengalihkan ransangan
ini kepusat penglihatan pada otak, bagian mata berfungsi memfokuskan ransangan
cahaya ke retina adalah lensa (Pearce, 2002).
Lensa
mata adalah sebuah benda transparan bikonveks (cembung depan belakang) yang
dipertahankan tempatnya oleh ligament
siliaris atau zonula zinnia,
organ focus utama yang membiaskan berkas-berkas cahaya yang terpantul. Jadi
lensa mata berbentuk biokonveks tidak mengandung membuluh darah dengan diameter
9mm ketebalan 4mm. Ketebalan tersebut meningkat dari usia 50 tahun dan mencapai
5mm pada usia 90 tahun. Puncak lengkungan anterior dan posterior lensa, disebut
kutup anterior dan kutup posterior.
- Klasifikasi
Katarak
dapat diklasifikasikan menurut umur penderita:
- Katarak Kongenital, sejak sebelum berumur 1 tahun sudah terlihat disebabkan oleh infeksi virus yang dialami ibu pada saat usia kehamilan masih dini (Farmacia, 2009). Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang tepat.
Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang
menderita penyakit rubela, galaktosemia, homosisteinuri, toksoplasmosis,
inklusi sitomegalik,dan histoplasmosis, penyakit lain yang menyertai katarak
kongenital biasanya berupa penyakit-penyakt herediter seperti mikroftlmus,
aniridia, koloboma iris, keratokonus, iris heterokromia, lensa ektopik,
displasia retina, dan megalo kornea.
Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat
prenatal infeksi ibu seperti rubela pada kehamilan trimester pertama dan
pemakainan obat selama kehamilan. Kadang-kadang terdapat riwayat kejang,
tetani, ikterus, atau hepatosplenomegali pada ibu hamil. Bila katarak disertai
uji reduksi pada urine yang positif, mungkin katarak ini terjadi akibat
galaktosemia. Sering katarak kongenital ditemukan pada bayi prematur dan
gangguan sistem saraf seperti retardasi mental.
Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak kongenital dengan diabetes melitus, fosfor, dan kalsium. Hampir 50 % katarak kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pupil bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria.
Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak kongenital dengan diabetes melitus, fosfor, dan kalsium. Hampir 50 % katarak kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pupil bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria.
- Katarak Juvenil, Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda, yang mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital. Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit lainnya
- Katarak Senil, setelah usia 50 tahun akibat penuaan. Katarak senile biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun, Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Katarak Senil sendiri terdiri dari 4 stadium, yaitu:
- Stadium awal (insipien). Pada stadium awal (katarak insipien) kekeruhan lensa mata masih sangat minimal, bahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat periksa. Pada saat ini seringkali penderitanya tidak merasakan keluhan atau gangguan pada penglihatannya, sehingga cenderung diabaikan. Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior ( katarak kortikal ). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks. Katarak sub kapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan dan korteks berisi jaringan degenerative(benda morgagni)pada katarak insipient kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- Stadium imatur. Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Pada stadium ini terjadi hidrasi kortek yang mengakibatkan lensa menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa akan mmberikan perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi mioptik. Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris kedepan sehingga bilik mata depan akan lebih sempit. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- Stadium matur. Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama-sama hasil desintegrasi melalui kapsul. Didalam stadium ini lensa akan berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium ini terlihat lensa berwarna sangat putih akibatperkapuran menyeluruh karena deposit kalsium ( Ca ). Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.( Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- stadium hipermatur. Katarak yang terjadi akibatkorteks yang mencair sehingga masa lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus "tenggelam" kearah bawah (jam 6)(katarak morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat masa lensa yang keluar kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik atau galukoma fakolitik (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- Katarak Intumesen. Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa degenerative yang menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa disertai pembengkakan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaucoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopi lentikularis. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang meberikan miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- Katarak Brunesen. Katarak yang berwarna coklat sampai hitam (katarak nigra) terutama pada lensa, juga dapat terjadi pada katarak pasien diabetes militus dan miopia tinggi. Sering tajam penglihatan lebih baik dari dugaan sebelumnya dan biasanya ini terdapat pada orang berusia lebih dari 65 tahun yang belum memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Perbedaan
karakteristik Katarak (Ilyas, 2001)
|
Insipien
|
Imatur
|
Matur
|
Hipermatur
|
Kekeruhan
|
Ringan
|
Sebagian
|
Seluruh
|
Masif
|
Cairan
Lensa
|
Normal
|
Bertambah
|
Normal
|
Berkurang
|
Iris
|
Normal
|
Terdorong
|
Normal
|
Tremulans
|
Bilik
mata depan
|
Normal
|
Dangkal
|
Normal
|
Dalam
|
Sudut
bilik mata
|
Normal
|
Sempit
|
Normal
|
Terbuka
|
Shadow
test
|
(-)
|
(+)
|
(-)
|
+/-
|
Visus
|
(+)
|
<
|
<<
|
<<<
|
Penyulit
|
(-)
|
Glaukoma
|
(-)
|
Uveitis+glaukoma
|
Klasifikasi katarak berdasarkan lokasi terjadinya:
1.)
Katarak Inti ( Nuclear )
Merupakan
yang paling banyak terjadi. Lokasinya terletak pada nukleus atau bagian tengah
dari lensa. Biasanya karena proses penuaan.
2.)
Katarak Kortikal
Katarak
kortikal ini biasanya terjadi pada korteks. Mulai dengan kekeruhan putih mulai
dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan. Banyak
pada penderita DM
3.)
Katarak Subkapsular.
Mulai
dengan kekeruhan kecil dibawah kapsul lensa, tepat pada lajur jalan sinar
masuk. DM, renitis pigmentosa dan pemakaian kortikosteroid dalam jangka waktu
yang lama dapat mencetuskan kelainan ini. Biasanya dapat terlihat pada kedua
mata.
- Etiologi
Berbagai
macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2000):
- Usia lanjut dan proses penuaan
- Congenital atau bisa diturunkan.
- Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok atau bahan beracun lainnya.
- Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik (misalnya diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).
Katarak
juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
- Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
- Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
- Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
- Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
- Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin,2009).
- Patofisiologi
Lensa
mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di
perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan
posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna
menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri
di anterior dan poterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang
memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan
kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan
pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina.
Salah
satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai influks air ke
dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu
transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran
dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan
bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.
- WOC

- Manifestasi Klinis
Gejala
subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
- Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
- menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari
Gejala
objektif biasanya meliputi:
- Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup.
- Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
- Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.
Gejala umum
gangguan katarak meliputi:
- Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
- Peka terhadap sinar atau cahaya.
- Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
- Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
- Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
- Kesulitan melihat pada malam hari
- Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata
- Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )
- Komplikasi
Ada
beberapa komplikasi katarak yaitu :
·
Glaukoma
·
Kerusakan retina
·
Infeksi
- Penatalaksanaan
Gejala-gejala yang timbul pada katarak yang masih ringan dapat dibantu
dengan menggunakan kacamata, lensa pembesar, cahaya yang lebih terang, atau
kacamata yang dapat meredamkan cahaya. Pada tahap ini tidak diperlukan tindakan
operasi.
Tindakan operasi katarak merupakan cara yang efektif untuk memperbaiki
lensa mata, tetapi tidak semua kasus katarak memerlukan tindakan operasi.
Operasi katarak perlu dilakukan jika kekeruhan lensa menyebabkan penurunan
tajam pengelihatan sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari.
Operasi katarak dapat dipertimbangkan untuk dilakukan jika katarak terjadi
berbarengan dengan penyakit mata lainnya, seperti uveitis yakni adalah
peradangan pada uvea. Uvea (disebut juga saluran uvea) terdiri dari 3 struktur:
- Iris : cincin berwarna yang melingkari pupil yang berwarna hitam
- Badan silier : otot-otot yang membuat lensa menjadi lebih tebal sehingga mata bisa fokus pada objek dekat dan lensa menjadi lebih tipis sehingga mata bisa fokus pada objek jauh
- Koroid : lapisan mata bagian dalam yang membentang dari ujung otot silier ke saraf optikus di bagian belakang mata.
Indikasi
dilakukannya operasi katarak :
- Indikasi sosial: jika pasien mengeluh adanya gangguan penglihatan dalam melakukan rutinitas pekerjaan
- Indikasi medis: bila ada komplikasi seperti glaucoma
- Indikasi optik: jika dari hasil pemeriksaan visus dengan hitung jari dari jarak 3 m didapatkan hasil visus 3/60
Ada
beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan, yaitu:
- ICCE ( Intra Capsular Cataract Extraction) yaitu dengan mengangkat semua lensa termasuk kapsulnya. Sampai akhir tahun 1960 hanya itulah teknik operasi yg tersedia.
- ECCE (Ekstra Capsular Cataract Extraction) terdiri dari 2 macam yakni
- Standar ECCE atau planned ECCE dilakukan dengan mengeluarkan lensa secara manual setelah membuka kapsul lensa. Tentu saja dibutuhkan sayatan yang lebar sehingga penyembuhan lebih lama.
- Fekoemulsifikasi (Phaco Emulsification). Bentuk ECCE yang terbaru dimana menggunakan getaran ultrasonic untuk menghancurkan nucleus sehingga material nucleus dan kortek dapat diaspirasi melalui insisi ± 3 mm. Operasi katarak ini dijalankan dengan cukup dengan bius lokal atau menggunakan tetes mata anti nyeri pada kornea (selaput bening mata), dan bahkan tanpa menjalani rawat inap. Sayatan sangat minimal, sekitar 2,7 mm. Lensa mata yang keruh dihancurkan (Emulsifikasi) kemudian disedot (fakum) dan diganti dengan lensa buatan yang telah diukur kekuatan lensanya dan ditanam secara permanen. Teknik bedah katarak dengan sayatan kecil ini hanya memerlukan waktu 10 menit disertai waktu pemulihan yang lebih cepat.
Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka
pendek. Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu, ketika bekas
insisi telah sembuh. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru dapat
dilakukan lebih cepat dengan metode fakoemulsifikasi. Karena pasien tidak dapat
berakomodasi maka pasien akan membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat
meski tidak dibutuhkan kacamata untuk jarak jauh. Saat ini digunakan lensa
intraokular multifokal. Lensa intraokular yang dapat berakomodasi sedang dalam
tahap pengembangan
Apabila tidak terjadi gangguan pada kornea, retina, saraf mata atau masalah
mata lainnya, tingkat keberhasilan dari operasi katarak cukup tinggi, yaitu
mencapai 95%, dan kasus komplikasi saat maupun pasca operasi juga sangat jarang
terjadi. Kapsul/selaput dimana lensa intra okular terpasang pada mata orang
yang pernah menjalani operasi katarak dapat menjadi keruh. Untuk itu perlu
terapi laser untuk membuka kapsul yang keruh tersebut agar penglihatan dapat
kembali menjadi jelas.
- Pemeriksaan Diagnostik
- Kartu mata Snellen / mesin telebinokular ( tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : mungkin terganggu dengan kerusakan lensa, system saraf atau penglihatan ke retina ayau jalan optic.
- Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optic, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisme.
- Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukkan anemi sistemik / infeksi
- EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid : dilakukan untuk memastikan aterosklerosis.
- Tes toleransi glukosa / FBS : menentukan adanya/ control diabetes.
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KATARAK
Pengkajian
A. Identitas / Data demografi
Berisi
nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara
langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga,
dan keterangan lain mengenai identitas pasien.
B. Riwayat Kesehatan
- Riwayat Kesehatan Sekarang
·
Keluhan utama pasien katarak biasanya antara lain: Penurunan ketajaman
penglihatan secara progresif (gejala utama katarak) . Mata tidak merasa sakit,
gatal atau merah. Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film. Perubahan daya
lihat warna. Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat
menyilaukan mata. Lampu dan matahari sangat mengganggu. Sering meminta ganti
resep kaca mata. Lihat ganda. Baik melihat dekat pada pasien rabun dekat (
hipermetropia)
- Riwayat penyakit dahulu
·
Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM, hipertensi,pembedahan
mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko katarak.
·
Kaji gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena, ketidakseimbangan
endokrin dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid /
toksisitas fenotiazin.
·
Kaji riwayat alergi
- Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada riwayat diabetes atau gangguan sistem
vaskuler, kaji riwayat stress,
C. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Dalam
inspeksi, bagian-bagian mata yang perlu di amati adalah dengan melihat lensa
mata melalui senter tangan (penlight), kaca pembesar, slit lamp, dan
oftalmoskop sebaiknya dengan pupil berdilatasi. Dengan penyinaran miring ( 45
derajat dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar
pinggir iris pada lensa yang keruh ( iris shadow ). Bila letak bayangan jauh
dan besar berarti kataraknya imatur, sedang bayangan kecil dan dekat dengan
pupil terjadi pada katarak matur.
Diagnosa Keperawatan (Doenges,2000):
- Gangguan peersepsi sensori-perseptual penglihatan b.d gangguan penerimaan sensori/status organ indera, lingkungna secara terapetik dibatasi. Ditandai dengan : Menurunnya ketajaman penglihatan, perubahan respon biasanya terhadap rangsang.
- Kecemasan b.d kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan
- Resiko tinggi terhadap infeksi b.d prosedur invasive pengangkatan katarak
Intervensi Keperawatan
No
|
Dx
|
Tujuan
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
1.
|
Gangguan peersepsi
sensori-perseptual penglihatan b.d gangguan penerimaan sensori/status
organ indera, lingkungna secara terapetik dibatasi. Ditandai dengan :
Menurunnya ketajaman penglihatan, perubahan respon biasanya terhadap
rangsang.
|
Meningkatkan ketajaman
penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan
berkompensasi terhadap perubahan.
Kriteria Hasil :
·
Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan
·
Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
|
·
Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat
·
Orientasikan klien tehadap lingkungan
·
Observasi tanda-tanda disorientasi.
·
Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dengan menyentuh.
·
Ingatkan klien menggunakan kacamata katarak yang tujuannya memperbesar
kurang lebih 25 persen, pelihatan perifer hilang dan buta titik mungkin ada
·
Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam
jangkauan/posisi yang tidak dioperasi.
|
·
Kebutuhan tiap individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab
kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif
·
Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan, menuruknkan cemas dan
disorientasi pasca operasi
·
Terbangun dalam lingkungan yang tidak di kenal dan mengalami keterbatasan
penglihatan dapat mengakibatkan kebingungan terhadaap orang tua
·
Memberikan rangsang sensori tepat terhadap isolasi dan menurunkan bingung
·
Perubahan ketajaman dan kedalaman persepsi dapat menyebabkan bingung
penglihatan dan meningkatkan resiko cedera sampai pasien belajar untuk
mengkompensa si.
|
2.
|
Kecemasan b.d kurang
terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan
|
a. Pasien mengungkapkan
dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya.
b. Pasien tampak rileks
tidak tegang dan melaporkan kecemasannya berkurang
sampai pada tingkat dapat
diatasi.
c. Pasien dapat
mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang pembedahan
|
·
Kaji tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda- tanda verbal dan
nonverbal.
·
Beri kesempatan Pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan
takutnya.
·
Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien
Edukasi
·
Beri penjelasan pasien tentang prosedur tindakan operasi, harapan dan
akibatnya.
·
Beri penjelasan dan suport pada pasien pada setiap melakukan prosedur
tindakan
·
Lakukan orientasi dan perkenalan pasien terhadap ruangan, petugas, dan
peralatan yang akan digunakan
|
·
Derajat kecemasan akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima
oleh individu. mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut
dapat ditujukan.
·
Mengetahui respon fisiologis yang ditimbulkan akibat kecemasan.
Edukasi
·
Meningkatkan pengetahuan pasien dalam rangka mengurangi kecemasan dan
kooperatif.
·
Mengurangikecemasan dan meningkatkan pengetahuan
·
Mengurangi perasaan takut dan cemas
|
3.
|
Resiko tinggi terhadap
infeksi b.d prosedur invasive pengangkatan katarak
|
a. Tanda-tanda infeksi
tidak terjadi
b. Penyembuhan luka dalam rentang waktu minimal
|
·
Tingkatkan
penyembuhan luka dengan:
ü
Berikan
dorongan untuk mengikuti diet seimbang dab asupan cairan yang adekuat
·
Gunakan
teknik aseptic untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan tisu
basah/bola kapas untuk tiap usapan
·
Tekankan
pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata
|
·
Nutrisi
dan hidrasi yang optimal meningkatkan kesehatan secara keseluruhan,
meningkatkan penyembuhan luka pembedahan
·
Teknik
aseptic menimalkan masuknya mikroorganisme dan mengurangi infeksi
·
Mencegah
kontaminasi dan kerusakan sisi operasi
|
DAFTAR PUSTAKA
- Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
- Sidarta, Ilyas. 2002. Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-2. Jakarta: CV. Sagung Seto
- Sidarta, Ilyas. Ihtisar ilmu Penyakit Mata. 2009. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI
- Andra, Yessi, 2013. Keperawatan Medical Bedah 1. Yogjakarta: Nuha Medica
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Katarak menyebabkan penglihatan menjadi berkabut/buram. Katarak
merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi
cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup
air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga
ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000).
B.
Saran
Demikian sedikit informasi
dari kami selaku penulis makalah ini. Tentu masih banyak sekali kekurangan dari makalah ini. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun masih
sangat kami butuhkan. Ucapan terima kasih
layaknya pantas kami persembahkan bagi para pembaca. Terakhir, ucapan maaf yang
sebesar – besarnya perlu kami ucapkan jika dalam penulisan ini kami banyak
melontarkan kata – kata yang kurang berkenan.
BAB 1
PENDAHULUAN
- Latar belakang
Salah
satu penyebab kebutaan adalah katarak. sekitar 1,5 % dari jumlah penduduk di
Indonesia, 78 % disebabkan oleh katarak. Pandangan mata yang kabur atau
berkabut bagaikan melihat melalui kaca mata berembun, ukuran lensa kacamata
yang sering berubah, penglihatan ganda ketika mengemudi di malam hari ,
merupakan gejala katarak. Tetapi di siang hari penderita justru merasa
silau karena cahaya yang masuk ke mata terasa berlebih.
Begitu
besarnya resiko masyarakat Indonesia untuk menderita katarak memicu kita
dalam upaya pencegahan. Dengan memperhatikan gaya hidup, lingkungan yang
sehat dan menghindari pemakaian bahan-bahan kimia yang dapat merusak akan
membuta kita terhindar dari berbagai jenis penyakit dalam stadium yang lebih
berat yang akan menyulitkan upaya penyembuhan.
- Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui
Asuhan Keperawatan pada pasien katarak.
2. Mahasiswa mampu memahami
konsep dasar Katarak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
- Definisi
Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga
menyebabkan penurunan/gangguan penglihatan (Admin,2009).
Katarak menyebabkan penglihatan menjadi berkabut/buram. Katarak
merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi
cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup
air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga
ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000).
Definisi lain katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa
rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa.
Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat
timbul pada berbagai usia tertentu (Iwan,2009).
- Anatomi Lensa Mata
Mata adalah
indra penglihatan dibentuk untuk menerima ransangan, berkas-berkas cahaya pada
retina dengan perantara serabut-serabut nervous options mengalihkan ransangan
ini kepusat penglihatan pada otak, bagian mata berfungsi memfokuskan ransangan
cahaya ke retina adalah lensa (Pearce, 2002).
Lensa
mata adalah sebuah benda transparan bikonveks (cembung depan belakang) yang
dipertahankan tempatnya oleh ligament
siliaris atau zonula zinnia,
organ focus utama yang membiaskan berkas-berkas cahaya yang terpantul. Jadi
lensa mata berbentuk biokonveks tidak mengandung membuluh darah dengan diameter
9mm ketebalan 4mm. Ketebalan tersebut meningkat dari usia 50 tahun dan mencapai
5mm pada usia 90 tahun. Puncak lengkungan anterior dan posterior lensa, disebut
kutup anterior dan kutup posterior.
- Klasifikasi
Katarak
dapat diklasifikasikan menurut umur penderita:
- Katarak Kongenital, sejak sebelum berumur 1 tahun sudah terlihat disebabkan oleh infeksi virus yang dialami ibu pada saat usia kehamilan masih dini (Farmacia, 2009). Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang tepat.
Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang
menderita penyakit rubela, galaktosemia, homosisteinuri, toksoplasmosis,
inklusi sitomegalik,dan histoplasmosis, penyakit lain yang menyertai katarak
kongenital biasanya berupa penyakit-penyakt herediter seperti mikroftlmus,
aniridia, koloboma iris, keratokonus, iris heterokromia, lensa ektopik,
displasia retina, dan megalo kornea.
Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat
prenatal infeksi ibu seperti rubela pada kehamilan trimester pertama dan
pemakainan obat selama kehamilan. Kadang-kadang terdapat riwayat kejang,
tetani, ikterus, atau hepatosplenomegali pada ibu hamil. Bila katarak disertai
uji reduksi pada urine yang positif, mungkin katarak ini terjadi akibat
galaktosemia. Sering katarak kongenital ditemukan pada bayi prematur dan
gangguan sistem saraf seperti retardasi mental.
Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak kongenital dengan diabetes melitus, fosfor, dan kalsium. Hampir 50 % katarak kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pupil bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria.
Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak kongenital dengan diabetes melitus, fosfor, dan kalsium. Hampir 50 % katarak kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pupil bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria.
- Katarak Juvenil, Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda, yang mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital. Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit lainnya
- Katarak Senil, setelah usia 50 tahun akibat penuaan. Katarak senile biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun, Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Katarak Senil sendiri terdiri dari 4 stadium, yaitu:
- Stadium awal (insipien). Pada stadium awal (katarak insipien) kekeruhan lensa mata masih sangat minimal, bahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat periksa. Pada saat ini seringkali penderitanya tidak merasakan keluhan atau gangguan pada penglihatannya, sehingga cenderung diabaikan. Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior ( katarak kortikal ). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks. Katarak sub kapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan dan korteks berisi jaringan degenerative(benda morgagni)pada katarak insipient kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- Stadium imatur. Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Pada stadium ini terjadi hidrasi kortek yang mengakibatkan lensa menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa akan mmberikan perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi mioptik. Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris kedepan sehingga bilik mata depan akan lebih sempit. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- Stadium matur. Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama-sama hasil desintegrasi melalui kapsul. Didalam stadium ini lensa akan berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium ini terlihat lensa berwarna sangat putih akibatperkapuran menyeluruh karena deposit kalsium ( Ca ). Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.( Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- stadium hipermatur. Katarak yang terjadi akibatkorteks yang mencair sehingga masa lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus "tenggelam" kearah bawah (jam 6)(katarak morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat masa lensa yang keluar kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik atau galukoma fakolitik (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- Katarak Intumesen. Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa degenerative yang menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa disertai pembengkakan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaucoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopi lentikularis. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang meberikan miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
- Katarak Brunesen. Katarak yang berwarna coklat sampai hitam (katarak nigra) terutama pada lensa, juga dapat terjadi pada katarak pasien diabetes militus dan miopia tinggi. Sering tajam penglihatan lebih baik dari dugaan sebelumnya dan biasanya ini terdapat pada orang berusia lebih dari 65 tahun yang belum memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Perbedaan
karakteristik Katarak (Ilyas, 2001)
|
Insipien
|
Imatur
|
Matur
|
Hipermatur
|
Kekeruhan
|
Ringan
|
Sebagian
|
Seluruh
|
Masif
|
Cairan
Lensa
|
Normal
|
Bertambah
|
Normal
|
Berkurang
|
Iris
|
Normal
|
Terdorong
|
Normal
|
Tremulans
|
Bilik
mata depan
|
Normal
|
Dangkal
|
Normal
|
Dalam
|
Sudut
bilik mata
|
Normal
|
Sempit
|
Normal
|
Terbuka
|
Shadow
test
|
(-)
|
(+)
|
(-)
|
+/-
|
Visus
|
(+)
|
<
|
<<
|
<<<
|
Penyulit
|
(-)
|
Glaukoma
|
(-)
|
Uveitis+glaukoma
|
Klasifikasi katarak berdasarkan lokasi terjadinya:
1.)
Katarak Inti ( Nuclear )
Merupakan
yang paling banyak terjadi. Lokasinya terletak pada nukleus atau bagian tengah
dari lensa. Biasanya karena proses penuaan.
2.)
Katarak Kortikal
Katarak
kortikal ini biasanya terjadi pada korteks. Mulai dengan kekeruhan putih mulai
dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan. Banyak
pada penderita DM
3.)
Katarak Subkapsular.
Mulai
dengan kekeruhan kecil dibawah kapsul lensa, tepat pada lajur jalan sinar
masuk. DM, renitis pigmentosa dan pemakaian kortikosteroid dalam jangka waktu
yang lama dapat mencetuskan kelainan ini. Biasanya dapat terlihat pada kedua
mata.
- Etiologi
Berbagai
macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2000):
- Usia lanjut dan proses penuaan
- Congenital atau bisa diturunkan.
- Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok atau bahan beracun lainnya.
- Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik (misalnya diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).
Katarak
juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
- Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
- Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
- Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
- Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
- Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin,2009).
- Patofisiologi
Lensa
mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di
perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan
posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna
menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri
di anterior dan poterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang
memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan
kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan
pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina.
Salah
satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai influks air ke
dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu
transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran
dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan
bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.
- WOC

- Manifestasi Klinis
Gejala
subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
- Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
- menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari
Gejala
objektif biasanya meliputi:
- Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup.
- Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
- Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.
Gejala umum
gangguan katarak meliputi:
- Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
- Peka terhadap sinar atau cahaya.
- Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
- Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
- Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
- Kesulitan melihat pada malam hari
- Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata
- Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )
- Komplikasi
Ada
beberapa komplikasi katarak yaitu :
·
Glaukoma
·
Kerusakan retina
·
Infeksi
- Penatalaksanaan
Gejala-gejala yang timbul pada katarak yang masih ringan dapat dibantu
dengan menggunakan kacamata, lensa pembesar, cahaya yang lebih terang, atau
kacamata yang dapat meredamkan cahaya. Pada tahap ini tidak diperlukan tindakan
operasi.
Tindakan operasi katarak merupakan cara yang efektif untuk memperbaiki
lensa mata, tetapi tidak semua kasus katarak memerlukan tindakan operasi.
Operasi katarak perlu dilakukan jika kekeruhan lensa menyebabkan penurunan
tajam pengelihatan sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari.
Operasi katarak dapat dipertimbangkan untuk dilakukan jika katarak terjadi
berbarengan dengan penyakit mata lainnya, seperti uveitis yakni adalah
peradangan pada uvea. Uvea (disebut juga saluran uvea) terdiri dari 3 struktur:
- Iris : cincin berwarna yang melingkari pupil yang berwarna hitam
- Badan silier : otot-otot yang membuat lensa menjadi lebih tebal sehingga mata bisa fokus pada objek dekat dan lensa menjadi lebih tipis sehingga mata bisa fokus pada objek jauh
- Koroid : lapisan mata bagian dalam yang membentang dari ujung otot silier ke saraf optikus di bagian belakang mata.
Indikasi
dilakukannya operasi katarak :
- Indikasi sosial: jika pasien mengeluh adanya gangguan penglihatan dalam melakukan rutinitas pekerjaan
- Indikasi medis: bila ada komplikasi seperti glaucoma
- Indikasi optik: jika dari hasil pemeriksaan visus dengan hitung jari dari jarak 3 m didapatkan hasil visus 3/60
Ada
beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan, yaitu:
- ICCE ( Intra Capsular Cataract Extraction) yaitu dengan mengangkat semua lensa termasuk kapsulnya. Sampai akhir tahun 1960 hanya itulah teknik operasi yg tersedia.
- ECCE (Ekstra Capsular Cataract Extraction) terdiri dari 2 macam yakni
- Standar ECCE atau planned ECCE dilakukan dengan mengeluarkan lensa secara manual setelah membuka kapsul lensa. Tentu saja dibutuhkan sayatan yang lebar sehingga penyembuhan lebih lama.
- Fekoemulsifikasi (Phaco Emulsification). Bentuk ECCE yang terbaru dimana menggunakan getaran ultrasonic untuk menghancurkan nucleus sehingga material nucleus dan kortek dapat diaspirasi melalui insisi ± 3 mm. Operasi katarak ini dijalankan dengan cukup dengan bius lokal atau menggunakan tetes mata anti nyeri pada kornea (selaput bening mata), dan bahkan tanpa menjalani rawat inap. Sayatan sangat minimal, sekitar 2,7 mm. Lensa mata yang keruh dihancurkan (Emulsifikasi) kemudian disedot (fakum) dan diganti dengan lensa buatan yang telah diukur kekuatan lensanya dan ditanam secara permanen. Teknik bedah katarak dengan sayatan kecil ini hanya memerlukan waktu 10 menit disertai waktu pemulihan yang lebih cepat.
Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka
pendek. Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu, ketika bekas
insisi telah sembuh. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru dapat
dilakukan lebih cepat dengan metode fakoemulsifikasi. Karena pasien tidak dapat
berakomodasi maka pasien akan membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat
meski tidak dibutuhkan kacamata untuk jarak jauh. Saat ini digunakan lensa
intraokular multifokal. Lensa intraokular yang dapat berakomodasi sedang dalam
tahap pengembangan
Apabila tidak terjadi gangguan pada kornea, retina, saraf mata atau masalah
mata lainnya, tingkat keberhasilan dari operasi katarak cukup tinggi, yaitu
mencapai 95%, dan kasus komplikasi saat maupun pasca operasi juga sangat jarang
terjadi. Kapsul/selaput dimana lensa intra okular terpasang pada mata orang
yang pernah menjalani operasi katarak dapat menjadi keruh. Untuk itu perlu
terapi laser untuk membuka kapsul yang keruh tersebut agar penglihatan dapat
kembali menjadi jelas.
- Pemeriksaan Diagnostik
- Kartu mata Snellen / mesin telebinokular ( tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : mungkin terganggu dengan kerusakan lensa, system saraf atau penglihatan ke retina ayau jalan optic.
- Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optic, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisme.
- Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukkan anemi sistemik / infeksi
- EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid : dilakukan untuk memastikan aterosklerosis.
- Tes toleransi glukosa / FBS : menentukan adanya/ control diabetes.
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KATARAK
Pengkajian
A. Identitas / Data demografi
Berisi
nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara
langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga,
dan keterangan lain mengenai identitas pasien.
B. Riwayat Kesehatan
- Riwayat Kesehatan Sekarang
·
Keluhan utama pasien katarak biasanya antara lain: Penurunan ketajaman
penglihatan secara progresif (gejala utama katarak) . Mata tidak merasa sakit,
gatal atau merah. Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film. Perubahan daya
lihat warna. Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat
menyilaukan mata. Lampu dan matahari sangat mengganggu. Sering meminta ganti
resep kaca mata. Lihat ganda. Baik melihat dekat pada pasien rabun dekat (
hipermetropia)
- Riwayat penyakit dahulu
·
Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM, hipertensi,pembedahan
mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko katarak.
·
Kaji gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena, ketidakseimbangan
endokrin dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid /
toksisitas fenotiazin.
·
Kaji riwayat alergi
- Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada riwayat diabetes atau gangguan sistem
vaskuler, kaji riwayat stress,
C. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Dalam
inspeksi, bagian-bagian mata yang perlu di amati adalah dengan melihat lensa
mata melalui senter tangan (penlight), kaca pembesar, slit lamp, dan
oftalmoskop sebaiknya dengan pupil berdilatasi. Dengan penyinaran miring ( 45
derajat dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar
pinggir iris pada lensa yang keruh ( iris shadow ). Bila letak bayangan jauh
dan besar berarti kataraknya imatur, sedang bayangan kecil dan dekat dengan
pupil terjadi pada katarak matur.
Diagnosa Keperawatan (Doenges,2000):
- Gangguan peersepsi sensori-perseptual penglihatan b.d gangguan penerimaan sensori/status organ indera, lingkungna secara terapetik dibatasi. Ditandai dengan : Menurunnya ketajaman penglihatan, perubahan respon biasanya terhadap rangsang.
- Kecemasan b.d kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan
- Resiko tinggi terhadap infeksi b.d prosedur invasive pengangkatan katarak
Intervensi Keperawatan
No
|
Dx
|
Tujuan
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
1.
|
Gangguan peersepsi
sensori-perseptual penglihatan b.d gangguan penerimaan sensori/status
organ indera, lingkungna secara terapetik dibatasi. Ditandai dengan :
Menurunnya ketajaman penglihatan, perubahan respon biasanya terhadap
rangsang.
|
Meningkatkan ketajaman
penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan
berkompensasi terhadap perubahan.
Kriteria Hasil :
·
Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan
·
Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
|
·
Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat
·
Orientasikan klien tehadap lingkungan
·
Observasi tanda-tanda disorientasi.
·
Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dengan menyentuh.
·
Ingatkan klien menggunakan kacamata katarak yang tujuannya memperbesar
kurang lebih 25 persen, pelihatan perifer hilang dan buta titik mungkin ada
·
Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam
jangkauan/posisi yang tidak dioperasi.
|
·
Kebutuhan tiap individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab
kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif
·
Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan, menuruknkan cemas dan
disorientasi pasca operasi
·
Terbangun dalam lingkungan yang tidak di kenal dan mengalami keterbatasan
penglihatan dapat mengakibatkan kebingungan terhadaap orang tua
·
Memberikan rangsang sensori tepat terhadap isolasi dan menurunkan bingung
·
Perubahan ketajaman dan kedalaman persepsi dapat menyebabkan bingung
penglihatan dan meningkatkan resiko cedera sampai pasien belajar untuk
mengkompensa si.
|
2.
|
Kecemasan b.d kurang
terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan
|
a. Pasien mengungkapkan
dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya.
b. Pasien tampak rileks
tidak tegang dan melaporkan kecemasannya berkurang
sampai pada tingkat dapat
diatasi.
c. Pasien dapat
mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang pembedahan
|
·
Kaji tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda- tanda verbal dan
nonverbal.
·
Beri kesempatan Pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan
takutnya.
·
Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien
Edukasi
·
Beri penjelasan pasien tentang prosedur tindakan operasi, harapan dan
akibatnya.
·
Beri penjelasan dan suport pada pasien pada setiap melakukan prosedur
tindakan
·
Lakukan orientasi dan perkenalan pasien terhadap ruangan, petugas, dan
peralatan yang akan digunakan
|
·
Derajat kecemasan akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima
oleh individu. mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut
dapat ditujukan.
·
Mengetahui respon fisiologis yang ditimbulkan akibat kecemasan.
Edukasi
·
Meningkatkan pengetahuan pasien dalam rangka mengurangi kecemasan dan
kooperatif.
·
Mengurangikecemasan dan meningkatkan pengetahuan
·
Mengurangi perasaan takut dan cemas
|
3.
|
Resiko tinggi terhadap
infeksi b.d prosedur invasive pengangkatan katarak
|
a. Tanda-tanda infeksi
tidak terjadi
b. Penyembuhan luka dalam rentang waktu minimal
|
·
Tingkatkan
penyembuhan luka dengan:
ü
Berikan
dorongan untuk mengikuti diet seimbang dab asupan cairan yang adekuat
·
Gunakan
teknik aseptic untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan tisu
basah/bola kapas untuk tiap usapan
·
Tekankan
pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata
|
·
Nutrisi
dan hidrasi yang optimal meningkatkan kesehatan secara keseluruhan,
meningkatkan penyembuhan luka pembedahan
·
Teknik
aseptic menimalkan masuknya mikroorganisme dan mengurangi infeksi
·
Mencegah
kontaminasi dan kerusakan sisi operasi
|
DAFTAR PUSTAKA
- Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
- Sidarta, Ilyas. 2002. Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-2. Jakarta: CV. Sagung Seto
- Sidarta, Ilyas. Ihtisar ilmu Penyakit Mata. 2009. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI
- Andra, Yessi, 2013. Keperawatan Medical Bedah 1. Yogjakarta: Nuha Medica
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Katarak menyebabkan penglihatan menjadi berkabut/buram. Katarak
merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi
cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup
air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga
ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000).
B.
Saran
Demikian sedikit informasi
dari kami selaku penulis makalah ini. Tentu masih banyak sekali kekurangan dari makalah ini. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun masih
sangat kami butuhkan. Ucapan terima kasih
layaknya pantas kami persembahkan bagi para pembaca. Terakhir, ucapan maaf yang
sebesar – besarnya perlu kami ucapkan jika dalam penulisan ini kami banyak
melontarkan kata – kata yang kurang berkenan.
No comments:
Post a Comment